Senin, 16 Desember 2013

Survival Horror Part I

1
Michelle bangun dipagi hari dengan keadaan was – was , setiap pagi Michelle selalu memandang keluar jendela untuk melihat pagar rumahnya yang terbuat dari besi yang kokoh serta menjulang tinggi mungkin sekitar enam belas feet yang terkunci dengan gembok ukuran enam belas millimeter, aku tidak pernah lupa menguncinya sebelum dia tidur. Michelle tidak tahu mengapa dia selau cemas jika tidak mengunci pagar disiang atau pun malam hari, Danni, kakaknya bilang bahwa dia hanya paranoid dan kebanyakan menonton film horror, mungkin dia benar sejak menonton film vampir dan mayat hidup Michelle menjadi sedikit ketakutan. Pagi itu sangat cerah walaupun tidak terlalu panas, sinar matahari terhalang oleh awan.
Aku bangun dan tidak mendapati Danni yang tidur dikamar sebelah, mungkin dia sudah berangkat bekerja terlebih dahulu tanpa membangunkan aku. Harold, anjing ras Rottweiler mengonggong padaku, dia mengucapkan selamat pagi padaku atau mungkin dia memintaku untuk mempersiapkan sarapan paginya, Harold anjing yang pintar, bulu hitam, dan bertubuh besar, dia sudah aku pelihara tiga tahun yang lalu, hadiah ulang tahun ku kedua puluh tentu saja dari Danni.
Pukul menunjukkan pukul delapan pagi, Michelle segera menjalankan rutinitasnya, mandi, sarapan dan pergi bekerja. Dia membuka pagarnya, lalu mengeluarkan mobil SUV dan dia kembali menutup pagar itu, agak repot memang, tapi dia terbiasa melakukannya. Dia mengendarai mobil melewati komplek rumahnya, pagi itu sama seperti pagi – pagi sebelummnya, orang – orang sibuk membersihkan halaman, pergi bekerja dan anak – anak pergi kesekolah, kota  yang terdapat dinegara bagian California tepatnya di San Fansisco.
Michelle bekerja diperusahaan otomotif Amerika dibagian administrasi. Sedangkan kakaknya bekerja disaingan perusahaan tempat Michelle bekerja. Michelle memasuki kantornya dan berjalan menuju kubikel ruangan kerjanya.  Teman – teman menyapanya dan dia membalas dengan senyumannya. Michelle mengenakan celana jeans hitam keabu abuan model skinny, kemeja motif garis dan kotak – kotak, tren busana saat ini, dia mengenakan sneaker merah yang kusam karena sering dipakai dan mengenakan tas slempang hitam berukuran sedang, tidak banyak yang dia bawa, kunci mobil, charger,topi, keripik kentang dan minuman kotakan yang ada ditasnya. Dia duduk dan menyalakan komputernya dan bersiap untuk bekerja selama sepuluh jam dari senin hingga sabtu. Michelle bekerja dan terus bekerja menyelesaikan saru – persatu pekerjaannya dan telepon selalu bordering maupun ponsel atau pun telepon kantornya.
James seorang staff dari bagian design merasa tidak enak badan, panas dingin , dan keringat membanjiri badannya walaupun kantor menyalakan pendingin udara, itu sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya, tubuhnya bergetar seperti orang yang sedang menggigil, matanya memerah dan pandangannya sedikit mengabur. James merasa tidak pernah seburuk ini sebelummnya, dia ingat sepulang kencan tadi malam saat meninggalkan klub malam saat dia ingin menuju parkiran mobilnya, tiba – tiba beberapa pria yang berpakaian hitam mencegatnya dan memberikannya suntikan di urat lehernya, sesaat disuntik James sudah tidak sadarkan diri, dan ketika dia bangun dia memegangi lehernya yang disuntik dan sudah berada dirumahnya entah kenapa dia sudah berada ditempat tidurnya, lalu dia pergi bekerja.
“Hei James, apa kau tidak apa – apa?”tanya seorang temannya.
“Aku apa – apa.”kilah James mencoba bersikap biasa
“Apa kau yakin?”
“Ya.” jawab James singkat dia kembali melakukan pekerjaannya untuk merancang design mobil baru, dia menggoreskan pensilnya untuk melanjutkan  rancangannya, dan kemudia dia terbatuk – batuk sangat keras seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
“James, kau tidak apa – apa?”
James yang sedang terbatuk, mengisyaratkan temannya bahwa dia tidak apa – apa, tapi batuk itu mengeluarkan darah kental diatas lembar kerjanya.
“Oh sial.”kata temannya melihat darah yang disertai muntahan isi perut james yang terhambur diatas meja. James melihat hal yang menjijikan itu dan menyeka mulutnya dengan lengan bajunya, lalu dia merasa sangat pusing, lemas dan tak sadarkan diri dia terjatuh kelantai dari tempat duduknya.
“James,James.”panggil temannya memastikan keadaan James.” Seseorang ! please panggil ambulance.”kata berteriak kepada siapa saja yang mendengarnya, medengar teriakan seseorang, para karyawan pun pergi keasal suara teriakan  tersebut. Mereka melihat james yang terbaring tidak berdaya dan melihat muntahan yang berada diatas meja, salah satu dari mereka memanggil ambulance.
“James , apa kau baik – baik saja?” temannya mencoba untuk menyadarkan James yang masih tidak sadarkan diri. Kemudian James membuka matanya yang awalnya tampak kabur kemudian berangsur – angsur jelas. James memandang sekelilingnya dengan linglung, orang – orang sedang memandanginya dengan mimic kuatir.
“Jangan kuatir, tim medis akan segera datang.”ucap salah satu karyawan disana.
“Syukurlah kau tidak apa – apa?”kata temannya.
Tiba – tiba James menggigit temannya itu di telinga dengan keras, James seakan – akan ingin merobek wajah temannya itu dengan gigitnya, temannya mengerang kesakitan dan berusaha menjauh sedangkan yang lain terutama karyawan wanita berteriak ketkutan setelah melihat peristiwa itu tadi. James tidak seperti sebelumnya, matanya merah dan kulitnya pucat, giginya menghitam dan merah karena menggigit wajah temannya tadi, dia menatap temannya yang terpojok kesakitan dengan garang, dia seperti ingin memakan temannya itu.
“Oh tidak.”gunam temannya yang melihat perubahan James yang mengerikan itu, James semakin mendekat kearahnya, James hanya bersuara tidak jelas.
“Menjauh dariku.”serunya pada James.
James tetap mendekatinya kemudian terdengar suara jeritan kesakitan dari ruangan itu yang membahana keseluruh bangunan itu.
Michelle melihat semua karyawan berlari menghambur ketakutan. Michelle tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia bertanya pada salah seorang temannya yang mengambil tas kerjanya bersiap untuk pergi.
“Hei, apa yang sedang terjadi? Semua orang ketakutan.”tanya Michelle
“James memakan temannya, lebih baik aku pergi meninggalkan tempat ini.”jawab wanita itu ketakutan.
“Memakan temannya?”tanya Michelle lagi bingung.
“James seperti Zombie.”
“Zombie? Mayat hidup maksud mu?”
“Kau kira aku bohong? Kau lihat saja sendiri.”kata wanita itu terlihat marah dan takut sambil berlalu meninggalkan Michelle yang sedang terheran.
“Ini bukan film kan?”tanya Michelle lagi pada dirinya, dia pun mengambil tasnya.
***

Satu minggu kemudian.
Seluruh kota menjadi panik, orang – orang pergi ketoko swalayan untuk memborong makanan dan kebutuhan lainnya, bahkan separuh penduduk pergi meninggalkan kota San Fansisco yang indah ini. Para polisi dan militer tiba dikota mereka menembak para mayat hidup yang berkeliaran dikota, mereka tampak kewalahan menghadapi zombie itu yang terus bergerak maju, kota pun diisolasi untuk waktu yang tidak ditentukan, mereka menyisir seluruh kota untuk mencari orang yang  bertahan dikota bukan untuk ditolong tapi untuk dimusnahkan, mereka ditembak mati oleh pihak yang berwajib, semua pengungsi dikumpulkan dilapangan terbuka, tentu saja mereka protes dan melawan, tembakan membabi buta datang dari segala arah, mereka menembaki siapa saja bahkan personil mereka, sejak saat itu kota begitu mencekam, militer mengambil semua pengawasan, mereka mencari – cari jika masih ada manusia hidup masih berada dikota, mereka tidak ingin mengambil resiko entah orang itu belum tertular atau sudah mereka akan membunuh apapun yang mereka lihat. Dan oleh itu sebabnya aku masih bersembunyi dirumahku bersama Danni dan Harold. Sudah lebih satu minggu kami terjebak disini, kami bertahan dengan stok makanan kami yang hampir habis, kami tidak pernah keluar dari pagar rumah kami, selain sangat beresiko jika zombie itu muncul tiba tiba, militer pun selalu berpatroli, kami mendengar rentetan senjata disekitar rumah kami, dimalam hari aku tidak menyalakan lampu, karena itu sangat mencolok, aku tidak mau mengambil resiko, jika para tentara itu melihatnya, mereka tidak akan segan untuk menembaki gembok pagarku atau menabrakkan mobil mereka untuk menembus pagar, lagi pula siapa yang mau menarik perhatian zombie, kami hanya memamfaatkan lilin – lilin yang bersinar redup pada saat malam hari, syukurnya listrik belum dipadamkan hingga saat ini.
“Sepertinya ini kaleng yang terakhir.”Aku mengambil sekaleng kecil sarden dari dalam lemari makanan, keadaan rumah berantakan sekali, banyak plastic – plastic makanan, botol minuman dan kaleng makanan yang sudah kosong memenuhi penampungan sampah yang sudah tidak muat lagi, sehingga sebagian sampah itu muntah keluar, Danni adalah orang yang perfeksionis, pembersih dan tegas, awalnya dia tampak risih dengan segala sampah itu. Tapi dengan keadaan begini siapa perduli dengan sampah – sampah itu. Danni pun sudah terbiasa.
“Baiklah tidak ada cara lain, kita harus menjarah toko.” Kata Danni menyuap sarden itu kemulutnya.
“Apa kita harus mengambil resikonya?”tanya ku bersungguh – sungguh sambil menuangkan biscuit anjing kedalam mangkuk Harold, anjing itu pun segera memakan makanannya, aku kembali kemeja makan.
“Apa kau tidak bosan memakan makanan ini?”tanyaku iseng walau pun kau tahu jawabannya.
Danni mendengus, aku tahu dia juga bosan memakan makanan kaleng seperti ini.
“Aku ingin sekali makan ayam goreng.”aku menggunam, kapan kita bisa memakannya lagi?”kenangku.
“Persiapkanlah barang – barang yang perlu kita bawa. Kita harus meninggalkan kota ini.”
“Oke semua sudah di packaging, pilih saja yang mana yang mau dibawa. Tapi apakah aman.?”
“Well, aku sudah mengamati belakangan ini tidak bayak militer yang berpatroli.”jawab Danni pria yang lebih tua tujuh tahun dariku dengan meyakinkan.
“Oke baiklah.”
“Kita pergi dengan mobil mu.”
“Apa SUV ku?”tanyaku terkejut, mobil itu aku beli dengan susah payah, aku tidak akan membiarkan lecet atau tergores sedikit saja. Apalagi memakainya dalam keadaan kota yang caruk maruk ini.
“Kenapa tidak dengan 4 x 4 mu?”tanyaku setengah berteriak karena kesal.
“Aku rasa lebih baik jika kita memakai mobil yang tertutup lagi pula bagasi mobil mu kan luas.”
“Tapi dengan mobil bak kita bisa membawa barang yang banyak.”
“Aku rasa lebih aman dengan mobil yang tertutup, bawa barang yang kita perlu saja. Kita harus keluar dari kota ini.”
Aku diam dan berpikir, apalah bandingannya dengan mobil SUV dengan keselamatan dan kami harus merasa aman tidak ada pilihan lain selain mobil sebesar van itu.
“Oke baiklah.”akhirnya aku menyetujui usul Danni. Kami menyesesaikan acara makan malam kami dan tidur di sofa, entah hatiku tidak tenang jika tidur didalam kamar. Harold meloncar keatas badan ku dan dia merebahkan dirinya, aku membelai kepala anjing itu, aku memutar kepala ku memandang kearah Danni yang juga sudah tertidur dengan mulut yang menganga.
            Sepertinya aku baru saja memejamkan mata, gonggongan Harold membangunkanku ternyata hari sudah terang, Danni segera beranjak dari sofa dan menuju pindu depan, aku mengikutinya, aku mendengar pagar besi berderak – derak. Danni menyuruh Harold untuk diam, anjing itu pun tenang, aku menyingkap kain gorden itu dan melihat keluar kaca jendela, ternyata ada seorang mayat hidup mengguncang – guncang pagar itu, dia mencoba untuk masuk, jika dia memanjat pagar teralis besi itu mungkin dia bisa masuk. Dia mengeluarkan erangan dan raungan, tangannya masuk kecelah pagar dan menggapai – gapai.
Holly Shit.”aku bergunam , zombie itu bukan satu –satunya ternyata belasan zombie menuju kearah pagar tinggi itu. Mereka terus menggoyangkan pagar itu, mereka seperti ingin merobohkan pagar itu.
“Kita harus pergi dari sini, aku akan mempersiapkan mobil.”Danni setengah berlari menuju garasi.
Aku langsung membawa satu ransel  pakaianku dan Danni, dan membawa sebuah kardus yang berukuran tidak terlalu besar aku membawa makanan Harold, biskuit anjing, miniman mineral botolan dan beberapa snack yang tersisa di lemari. Aku memasukannya kedalam mobil. Aku merasa barang telah aku masukan. Danni sedang mengambil beberapa beralatan, tongkat besi, senapan yang biasanya dia pakai untuk berburu, pisau, kapak apapun benda yang terbuat dari besi dan tajam. Aku ingat sesuatu yang hampir aku lupakan aku kembali kedalam kamar dan mengobrak abrik isi laci kamarku, benda itu aku letakkan didasar laci dan berada dipaling ujung, aku meraba dan menggapai benda itu. Ya, sebuah senjata revolver yang aku beli lima tahun yang lalu hanya untuk berjaga – jaga dan tidak pernah aku gunakan sebelumnya. Aku mengusap senjata itu masih baru, aku bisa melihat pantulan wajahku digangngan senjata itu. Harold mengonggong sekali, aku menoleh kepadanya.
“Well, Harold ini yang kita perlukan.” Kataku dan memasukan senjata beserta magazinenya kedalam tas yang selalu aku pakai saat bekerja.
“Michelle.” Danni menyerukan namaku.
“Oke, im ready.”seruku membalasnya dan segera berlari kearah garasi di ikuti oleh Harold. Aku tiba digarasi dan mendapati Danni sedang menenteng senapan dibahu kanannya, dia hanya mengenakan singlet putih, celana jeans biru tua, sepatu merk Dallas dan topi kesayangannya.
“Kau keren sekali. Spring summer fashion style.”kataku terkesan melihat Danni yang tetap berpenampilan keren dalam keadaan apa saja, berbeda denganku, aku memang orang yang memperhatikan penampilan tapi aku bukan orang yang rapi, agak sembarangan tapi aku juka menyukai kebersihan. Tentu saja aku memakai celana jeans skinny berwarna  biru tua senada dengan warna celana Danni, aku juga memakai singlet putih , kami memang mirip dalam segi berpakaian, hanya saja aku memakai kemeja berwarna biru dengan motif yang bergaris – garis, seperti pakaian gaya Amerika yang sedang trend sekarang ini. Aku membuka pintu mobil.
“Masuk Harold.” Perintahku, anjing itu pun melompat masuk kedalam mobil, dia duduk di jok belakang, sedangkan aku duduk didepan. Danni memegang kemudi. Dan begitu kami keluar garasi, zombie itu saling mendorong didepan pagar.
“Bagaimana? Tidak ada jalan lain selain pagar itu.”kata ku.
Don’t worry.” Danni melempar sebuah bom Molotov yang telah dia persiapkan, dia menggemgan botol wisky yang telah kosong dan diidi dengan bensin dan diberi sumbu dengan kain lap. Dia menyelakan pematik apinya.
“Kau mengerti maksudku?”tanyanya.
“Tentu, tentu saja. Kau melempar botol itu kearah mayat hidup itu, aku akan menembak kunci pagar itu.” Jawabku.
“Ini.” Danni memberikan aku senapannya.
Aku mengeluarkan sebuah senjata dari dalam tasku.
“Jangan kuatir, aku atlet penembak disaat masih SMA.”
“Baiklah. Kita mulai.” Kata Danni, dia membuka power window dan mengeluarkan setengah badannya keluar, dia menyalakan sumbu itu kemudian melemparnya keluar pagar tepat mengenai segerombolan mahluk kelaparan itu terbakar seketika dan mereka menyebar.
“Sekarang.”
Aku menembakkan kunci pagar itu dengan otomatis pagar itu terbuka lebar karena dorongan dari para zombie yang  sebagian dari mereka terbakar. Danni menginjak pedal gas dan mengganti gigi mobil, aku mendengar ban mobil berdecit bercampur dengan gonggongan Harold, aku menembaki mereka secara membabi buta mereka berjatuhan tapi kembali bangkit lagi.
“Pegangan.” Seru Danni, dia meluncur keluar dari pagar dan kami menabrak beberapa zombie yang berada dijalur jalan yang kami lewati. Aku mendengar bunyi tubrukan saat tubuh mereka terhempas ketanah, aku merasa terangkat karena mobil itu pasti melindas sesuatu, tentu saja zombie keparat itu mati terlindas tepat dikepalanya. Aku menoleh kebelakang.
Damn!” seruku melihat zombie – zombie itu mencoba mengikuti kami, sementara Danni bersorak – sorak kegirangan. Dia merasa seperti berhasil menghindar dari kejaran polisi yang sedang merajianya.
“Wow ! kita berhasil”
“Huh! Menegangkan sekali. Kau lihat mereka? Mereka begitu mengerikan. Damn! Shit ! oh my God!” seru ku tak kalah seperti merasakan sensasi ketegangan karena ini baru pertama kalinya aku meletuskan senjata ku. Danni meluncurkan mobil dengan mulusnya dan kami menuju kekota.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, aku merasakan perasaan yang mencekam ketika melihat seluruh kota menjadi kacau, aku melihat mobil – mobil terpakir sembarangan seperti ditinggal oleh pemiliknya dan tidak sedikit aku melihat mayat – mayat bergelimpangan, namun aku tidak melihat satu pun mahluk itu berada disekitar sini. Danni memarkirkan mobilnya dibelokan persimpangan jalan, dulu jalan yang begitu ramai dilewati oleh kendaraan dan pejalan kaki, kini kosong hanya sampah, mobil , sepeda dan yang lainnya berserakan dijalan.
“Kita akan pergi ke toko.”
Aku melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu depan, diikuti oleh Harold yang juga keluar dari pintu depan, Danni membawa senapan dan sebuah kantung besar untuk memuat barang – barang yang akan dia ambil.
“Tetap focus dan berhati – hati.”kata Danni  memperingatkan aku dan Harold.
Kami melangkah berhati – hati sambil tangan memengang senjata masing – masing, mata kami mengamati sekeliling, memang tidak ada siapa pun disini sehingga dengan mudah kami bisa memasuki toko kelontong itu, aku masuk terlebih dahulu, lalu dikikuti oleh Harold dan Danni. Begitu aku berbalik aku melihat beberapa sosok yang sedang berjalan tertatih – tatih mengintari rak,  mereka melihat kearah kami dengan tatapan yang mengerikan dan bersuara mengerang seperti kode, sehingga beberapa lagi muncul dari bawah rak, mugkin mereka sedang memakan manusia dan yang lainnya berbalik kearah kami.
Shit.” Gunam Danni dia mengarahkan senapannya kearah zombie yang sedang berjalan mendekat dan menembakkannya. Aku pun tidak tinggal diam, ini membuat ku spontan mengacungkan senjata itu tepat kearah kepala mereka dan menarik pelatuknya sehingga zombie – zombie itu jatuh dan tersungkur kelantai. Salah satu zombie yang telah jatuh masih mengerang – mengerang mencoba menggapai ku, aku lihat dia hanya tertembak dikakinya sehingga membuatnya tidak bisa berdiri. Bergaya seperti pembunuh bayaran aku menembakkan senjataku kekepala dengan letusan yang pertama dia diam tidak bergerak lagi, kemudian aku melepaskan ssatu tembakan lagi, aku tidak bisa berhenti dan satu tembakan dan hampir aku membuang peluruku jika Danni tidak meneriakiku.
“Hei. Hei , cukup.”
“Maaf. Aku seperti ketagihan.” Jawabku sekenanya
“Kita tidak akan membuang waktu, segera ambil barang yang kita butuhkan.”kataku pada Danni.
Danni mengangguk dan kami berpencar dia kesisi kanan, aku dan Harold kesisi kiri tepatnya kearah rak makanan, aku membuka tas kantongku aku mengambil keripik kentang, macam - macam biscuit, beberapa varian candy bar, macam – macam makanan kaleng sampai tas kantungku penuh , aku melangkah menuju lemari pendingin mengambil minuman. Danni pergi ketempat penjualan alat dia mengambil senter, baterai, tidak banyak yang dia ambil dia kemudian kembali  ke meja kasir dan dia mencari – cari dimana outlet penjulan rokok, ternyata ada meja kaca kashir, dia memukulkan ganggang senapan itu ke meja kaca sampai kacanya pecah berkeping – keping, dia mengambil rokok satu jenis saja, Marlboro red rokok kesukaannya, dia mengambil semua rokok itu sampai tidak tersisa. Aku mendengar bunyi pecahan kaca langsung pergi mencari asal suara itu.
“Oh men, kau mengejutkan aku saja.”umpat ku
“Aku sudah selessai.”
“Yeah aku juga.” Aku melemparkan sekaleng minuman ion untuk Danni, Danni menyambutnya dan meminumnya habis dalam sekali teguk, aku pikir dia benar – benar kehausan.
Lets get out from here.” Kata Danni melempar kaleng kosong itu.
“Danni ini sangat berat.”kataku mencoba untuk mengangkat tas kantung yang terisi penuh itu.
Cheese!” serunya melihat barang yang kubawa.”Kau bawa punyaku.”
Kami pun bertukar tas, tasnya tidak terlalu berat dengan mudah aku bisa membawanya sedangkan Danni menggendong tasku walaupun agak berat namun dia bisa membawanya. Sebelum kami keluar Danni menghampiri salah satu mayat hidup yang sudah tidak bergerak itu, dia mengambil pistol zombie yang merupakan seorang polisi sewaktu dia masih menjadi manusia.
“Lumayan.”kata Danni dan menyelipkan pistol itu disela pinggang celananya. Kamipun keluar dari toko untuk kembali menuju kedalam mobil aku dan Harold tetap mengikuti Danni dari belakang hanya sekitar tiga yard sebelum kami mencapai mobil, aku melihat seorang mayat hidup berjalan kearah kami jaraknya tidak begitu dekat, tapi cukup membuat ku sedikit panic dan takut dan aku menembaknya sehingga zombie itu terjatuh. Danni tersentak mendengar suara tembakan ku.
What the hell fucking you doing ?!” bentaknya
“Ada zombie. Tapi aku sudah menembaknya.”jawabku sedikit tenang saat ku tahu aku tepat menembak kepalanya sehingga dia tidak muncul dari balik mobil yang berserakan.
Oh no.” Danni sembari berbisik karena suaranya hampir tidak kedengaran. Aku melihat disekelilingku tampak dari kejauhan segerombol zombie dari tiap sisi jalan bermunculan karena mendengar suara tembakanku.
“Sial !”
Harold terus – terus mengonggong, dia memutar mutar badannya dan menurunkan ekornya diantara kakinya. Kami terus – terus menembak. Peluru yang berada dalam magazine ku pun habis dengan terburu – buru aku merogoh isi tasku, membuang magazine yang kosong dan mengisinya dengan magazine yang penuh, astaga zombie itu cepat sekali bergerak dia hanya berjarak tiga yard dari kami yang terus – terusan menembak. Begitu juga dengan Danni dia merogoh kantung celanya dan membuat peluru kedalam senapannya dan kembali menembak, kami melangkah mundur menjari sudut untuk melarikan diri namun itu percuma karena penuh sesak oleh zombie – zombie jelek itu.
“Merunduk.”
Entah dari mana suara itu berasal, aku tidak sempat melihatnya Danni segera menunduk akun spontan menunduk dan memeluk Harold, kami berlindung disebuah truk. Aku mendengar dentuman yang sangat keras membuat kami menutup telinga. Hanya beberapa detik saja sekumpulan zombie itu terlempar kemana – mana, setelah itu di susul dengan rentetan suara tembakan. Danni mengintip dari balik box truk tempat kami berlindung, dia mendongak keatas ternyata ada seseorang berada diatas gedung menembaki para mayat hidup dan dua orang sedang menembaki dibawah gedung.
“Sebelah sini.” Teriak salah satu dari mereka. Kami pun berlari keseberang jalan dan terdapat gedung. Berdiri disebelah penembak itu dan ikut membak, seorang lainnya pun pergi kearah kami. Solah mayat hidup itu tidak ada habisnya mereka terus muncul dan muncul.
Bersambung...