1
Michelle
bangun dipagi hari dengan keadaan was – was , setiap pagi Michelle selalu
memandang keluar jendela untuk melihat pagar rumahnya yang terbuat dari besi
yang kokoh serta menjulang tinggi mungkin sekitar enam belas feet yang terkunci
dengan gembok ukuran enam belas millimeter, aku tidak pernah lupa menguncinya
sebelum dia tidur. Michelle tidak tahu mengapa dia selau cemas jika tidak
mengunci pagar disiang atau pun malam hari, Danni, kakaknya bilang bahwa dia
hanya paranoid dan kebanyakan menonton film horror, mungkin dia benar sejak
menonton film vampir dan mayat hidup Michelle menjadi sedikit ketakutan. Pagi
itu sangat cerah walaupun tidak terlalu panas, sinar matahari terhalang oleh
awan.
Aku
bangun dan tidak mendapati Danni yang tidur dikamar sebelah, mungkin dia sudah
berangkat bekerja terlebih dahulu tanpa membangunkan aku. Harold, anjing ras
Rottweiler mengonggong padaku, dia mengucapkan selamat pagi padaku atau mungkin
dia memintaku untuk mempersiapkan sarapan paginya, Harold anjing yang pintar,
bulu hitam, dan bertubuh besar, dia sudah aku pelihara tiga tahun yang lalu,
hadiah ulang tahun ku kedua puluh tentu saja dari Danni.
Pukul
menunjukkan pukul delapan pagi, Michelle segera menjalankan rutinitasnya,
mandi, sarapan dan pergi bekerja. Dia membuka pagarnya, lalu mengeluarkan mobil
SUV dan dia kembali menutup pagar itu, agak repot memang, tapi dia terbiasa
melakukannya. Dia mengendarai mobil melewati komplek rumahnya, pagi itu sama
seperti pagi – pagi sebelummnya, orang – orang sibuk membersihkan halaman,
pergi bekerja dan anak – anak pergi kesekolah, kota yang terdapat dinegara bagian California
tepatnya di San Fansisco.
Michelle
bekerja diperusahaan otomotif Amerika dibagian administrasi. Sedangkan kakaknya
bekerja disaingan perusahaan tempat Michelle bekerja. Michelle memasuki
kantornya dan berjalan menuju kubikel ruangan kerjanya. Teman – teman menyapanya dan dia membalas
dengan senyumannya. Michelle mengenakan celana jeans hitam keabu abuan model
skinny, kemeja motif garis dan kotak – kotak, tren busana saat ini, dia
mengenakan sneaker merah yang kusam karena sering dipakai dan mengenakan tas
slempang hitam berukuran sedang, tidak banyak yang dia bawa, kunci mobil,
charger,topi, keripik kentang dan minuman kotakan yang ada ditasnya. Dia duduk
dan menyalakan komputernya dan bersiap untuk bekerja selama sepuluh jam dari
senin hingga sabtu. Michelle bekerja dan terus bekerja menyelesaikan saru –
persatu pekerjaannya dan telepon selalu bordering maupun ponsel atau pun
telepon kantornya.
James
seorang staff dari bagian design merasa tidak enak badan, panas dingin , dan
keringat membanjiri badannya walaupun kantor menyalakan pendingin udara, itu
sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya, tubuhnya bergetar seperti orang
yang sedang menggigil, matanya memerah dan pandangannya sedikit mengabur. James
merasa tidak pernah seburuk ini sebelummnya, dia ingat sepulang kencan tadi
malam saat meninggalkan klub malam saat dia ingin menuju parkiran mobilnya,
tiba – tiba beberapa pria yang berpakaian hitam mencegatnya dan memberikannya
suntikan di urat lehernya, sesaat disuntik James sudah tidak sadarkan diri, dan
ketika dia bangun dia memegangi lehernya yang disuntik dan sudah berada
dirumahnya entah kenapa dia sudah berada ditempat tidurnya, lalu dia pergi bekerja.
“Hei
James, apa kau tidak apa – apa?”tanya seorang temannya.
“Aku
apa – apa.”kilah James mencoba bersikap biasa
“Apa
kau yakin?”
“Ya.”
jawab James singkat dia kembali melakukan pekerjaannya untuk merancang design
mobil baru, dia menggoreskan pensilnya untuk melanjutkan rancangannya, dan kemudia dia terbatuk –
batuk sangat keras seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
“James,
kau tidak apa – apa?”
James
yang sedang terbatuk, mengisyaratkan temannya bahwa dia tidak apa – apa, tapi
batuk itu mengeluarkan darah kental diatas lembar kerjanya.
“Oh
sial.”kata temannya melihat
darah yang disertai muntahan isi perut james yang terhambur diatas meja. James
melihat hal yang menjijikan itu dan menyeka mulutnya dengan lengan bajunya,
lalu dia merasa sangat pusing, lemas dan tak sadarkan diri dia terjatuh
kelantai dari tempat duduknya.
“James,James.”panggil
temannya memastikan keadaan James.” Seseorang ! please panggil ambulance.”kata
berteriak kepada siapa saja yang mendengarnya, medengar teriakan seseorang,
para karyawan pun pergi keasal suara teriakan
tersebut. Mereka melihat james yang terbaring tidak berdaya dan melihat
muntahan yang berada diatas meja, salah satu dari mereka memanggil ambulance.
“James
, apa kau baik – baik saja?”
temannya mencoba untuk menyadarkan James yang masih tidak sadarkan diri.
Kemudian James membuka matanya yang awalnya tampak kabur kemudian berangsur –
angsur jelas. James memandang sekelilingnya dengan linglung, orang – orang
sedang memandanginya dengan mimic kuatir.
“Jangan
kuatir, tim medis akan segera datang.”ucap salah satu karyawan disana.
“Syukurlah
kau tidak apa – apa?”kata temannya.
Tiba
– tiba James menggigit temannya itu di telinga dengan keras, James seakan –
akan ingin merobek wajah temannya itu dengan gigitnya, temannya mengerang
kesakitan dan berusaha menjauh sedangkan yang lain terutama karyawan wanita
berteriak ketkutan setelah melihat peristiwa itu tadi. James tidak seperti
sebelumnya, matanya merah dan kulitnya pucat, giginya menghitam dan merah
karena menggigit wajah temannya tadi, dia menatap temannya yang terpojok
kesakitan dengan garang, dia seperti ingin memakan temannya itu.
“Oh
tidak.”gunam temannya yang melihat perubahan James yang mengerikan itu, James
semakin mendekat kearahnya, James hanya bersuara tidak jelas.
“Menjauh
dariku.”serunya pada James.
James
tetap mendekatinya kemudian terdengar suara jeritan kesakitan dari ruangan itu
yang membahana keseluruh bangunan itu.
Michelle melihat semua karyawan
berlari menghambur ketakutan. Michelle tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia
bertanya pada salah seorang temannya yang mengambil tas kerjanya bersiap untuk
pergi.
“Hei,
apa yang sedang terjadi? Semua orang ketakutan.”tanya Michelle
“James
memakan temannya, lebih baik aku pergi meninggalkan tempat ini.”jawab wanita
itu ketakutan.
“Memakan
temannya?”tanya Michelle lagi bingung.
“James
seperti Zombie.”
“Zombie?
Mayat hidup maksud mu?”
“Kau
kira aku bohong? Kau lihat saja sendiri.”kata wanita itu terlihat marah dan
takut sambil berlalu meninggalkan Michelle yang sedang terheran.
“Ini
bukan film kan?”tanya Michelle lagi pada dirinya, dia pun mengambil tasnya.
***
Satu
minggu kemudian.
Seluruh
kota menjadi panik, orang – orang pergi ketoko swalayan untuk memborong makanan
dan kebutuhan lainnya, bahkan separuh penduduk pergi meninggalkan kota San
Fansisco yang indah ini. Para polisi dan militer tiba dikota mereka menembak
para mayat hidup yang berkeliaran dikota, mereka tampak kewalahan menghadapi
zombie itu yang terus bergerak maju, kota pun diisolasi untuk waktu yang tidak
ditentukan, mereka menyisir seluruh kota untuk mencari orang yang bertahan dikota bukan untuk ditolong tapi
untuk dimusnahkan, mereka ditembak mati oleh pihak yang berwajib, semua
pengungsi dikumpulkan dilapangan terbuka, tentu saja mereka protes dan melawan,
tembakan membabi buta datang dari segala arah, mereka menembaki siapa saja
bahkan personil mereka, sejak saat itu kota begitu mencekam, militer mengambil
semua pengawasan, mereka mencari – cari jika masih ada manusia hidup masih
berada dikota, mereka tidak ingin mengambil resiko entah orang itu belum
tertular atau sudah mereka akan membunuh apapun yang mereka lihat. Dan oleh itu
sebabnya aku masih bersembunyi dirumahku bersama Danni dan Harold. Sudah lebih
satu minggu kami terjebak disini, kami bertahan dengan stok makanan kami yang
hampir habis, kami tidak pernah keluar dari pagar rumah kami, selain sangat
beresiko jika zombie itu muncul tiba tiba, militer pun selalu berpatroli, kami
mendengar rentetan senjata disekitar rumah kami, dimalam hari aku tidak
menyalakan lampu, karena itu sangat mencolok, aku tidak mau mengambil resiko,
jika para tentara itu melihatnya, mereka tidak akan segan untuk menembaki
gembok pagarku atau menabrakkan mobil mereka untuk menembus pagar, lagi pula
siapa yang mau menarik perhatian zombie, kami hanya memamfaatkan lilin – lilin
yang bersinar redup pada saat malam hari, syukurnya listrik belum dipadamkan
hingga saat ini.
“Sepertinya
ini kaleng yang terakhir.”Aku mengambil sekaleng kecil sarden dari dalam lemari
makanan, keadaan rumah berantakan sekali, banyak plastic – plastic makanan,
botol minuman dan kaleng makanan yang sudah kosong memenuhi penampungan sampah
yang sudah tidak muat lagi, sehingga sebagian sampah itu muntah keluar, Danni
adalah orang yang perfeksionis, pembersih dan tegas, awalnya dia tampak risih
dengan segala sampah itu. Tapi dengan keadaan begini siapa perduli dengan
sampah – sampah itu. Danni pun sudah terbiasa.
“Baiklah
tidak ada cara lain, kita harus menjarah toko.” Kata Danni menyuap sarden itu
kemulutnya.
“Apa
kita harus mengambil resikonya?”tanya ku bersungguh – sungguh sambil menuangkan
biscuit anjing kedalam mangkuk Harold, anjing itu pun segera memakan
makanannya, aku kembali kemeja makan.
“Apa
kau tidak bosan memakan makanan ini?”tanyaku iseng walau pun kau tahu
jawabannya.
Danni
mendengus, aku tahu dia juga bosan memakan makanan kaleng seperti ini.
“Aku
ingin sekali makan ayam goreng.”aku menggunam, kapan kita bisa memakannya
lagi?”kenangku.
“Persiapkanlah
barang – barang yang perlu kita bawa. Kita harus meninggalkan kota ini.”
“Oke
semua sudah di packaging, pilih saja yang mana yang mau dibawa. Tapi apakah
aman.?”
“Well,
aku sudah mengamati belakangan ini tidak bayak militer yang berpatroli.”jawab
Danni pria yang lebih tua tujuh tahun dariku dengan meyakinkan.
“Oke
baiklah.”
“Kita
pergi dengan mobil mu.”
“Apa
SUV ku?”tanyaku terkejut, mobil itu aku beli dengan susah payah, aku tidak akan
membiarkan lecet atau tergores sedikit saja. Apalagi memakainya dalam keadaan
kota yang caruk maruk ini.
“Kenapa
tidak dengan 4 x 4 mu?”tanyaku setengah berteriak karena kesal.
“Aku
rasa lebih baik jika kita memakai mobil yang tertutup lagi pula bagasi mobil mu
kan luas.”
“Tapi
dengan mobil bak kita bisa membawa barang yang banyak.”
“Aku
rasa lebih aman dengan mobil yang tertutup, bawa barang yang kita perlu saja.
Kita harus keluar dari kota ini.”
Aku
diam dan berpikir, apalah bandingannya dengan mobil SUV dengan keselamatan dan
kami harus merasa aman tidak ada pilihan lain selain mobil sebesar van itu.
“Oke
baiklah.”akhirnya aku menyetujui usul Danni. Kami menyesesaikan acara makan
malam kami dan tidur di sofa, entah hatiku tidak tenang jika tidur didalam
kamar. Harold meloncar keatas badan ku dan dia merebahkan dirinya, aku membelai
kepala anjing itu, aku memutar kepala ku memandang kearah Danni yang juga sudah
tertidur dengan mulut yang menganga.
Sepertinya aku baru saja memejamkan
mata, gonggongan Harold membangunkanku ternyata hari sudah terang, Danni segera
beranjak dari sofa dan menuju pindu depan, aku mengikutinya, aku mendengar
pagar besi berderak – derak. Danni menyuruh Harold untuk diam, anjing itu pun
tenang, aku menyingkap kain gorden itu dan melihat keluar kaca jendela,
ternyata ada seorang mayat hidup mengguncang – guncang pagar itu, dia mencoba
untuk masuk, jika dia memanjat pagar teralis besi itu mungkin dia bisa masuk.
Dia mengeluarkan erangan dan raungan, tangannya masuk kecelah pagar dan
menggapai – gapai.
“Holly Shit.”aku bergunam , zombie itu
bukan satu –satunya ternyata belasan zombie menuju kearah pagar tinggi itu.
Mereka terus menggoyangkan pagar itu, mereka seperti ingin merobohkan pagar
itu.
“Kita
harus pergi dari sini, aku akan mempersiapkan mobil.”Danni setengah berlari
menuju garasi.
Aku
langsung membawa satu ransel pakaianku dan
Danni, dan membawa sebuah kardus yang berukuran tidak terlalu besar aku membawa
makanan Harold, biskuit anjing, miniman mineral botolan dan beberapa snack yang
tersisa di lemari. Aku memasukannya kedalam mobil. Aku merasa barang telah aku
masukan. Danni sedang mengambil beberapa beralatan, tongkat besi, senapan yang
biasanya dia pakai untuk berburu, pisau, kapak apapun benda yang terbuat dari
besi dan tajam. Aku ingat sesuatu yang hampir aku lupakan aku kembali kedalam
kamar dan mengobrak abrik isi laci kamarku, benda itu aku letakkan didasar laci
dan berada dipaling ujung, aku meraba dan menggapai benda itu. Ya, sebuah
senjata revolver yang aku beli lima tahun yang lalu hanya untuk berjaga – jaga
dan tidak pernah aku gunakan sebelumnya. Aku mengusap senjata itu masih baru,
aku bisa melihat pantulan wajahku digangngan senjata itu. Harold mengonggong
sekali, aku menoleh kepadanya.
“Well, Harold ini yang kita
perlukan.” Kataku dan memasukan senjata beserta magazinenya kedalam tas yang
selalu aku pakai saat bekerja.
“Michelle.”
Danni menyerukan namaku.
“Oke,
im ready.”seruku membalasnya dan segera berlari kearah garasi di ikuti oleh
Harold. Aku tiba digarasi dan mendapati Danni sedang menenteng senapan dibahu
kanannya, dia hanya mengenakan singlet putih, celana jeans biru tua, sepatu
merk Dallas dan topi kesayangannya.
“Kau
keren sekali. Spring summer fashion style.”kataku terkesan melihat Danni yang
tetap berpenampilan keren dalam keadaan apa saja, berbeda denganku, aku memang
orang yang memperhatikan penampilan tapi aku bukan orang yang rapi, agak
sembarangan tapi aku juka menyukai kebersihan. Tentu saja aku memakai celana
jeans skinny berwarna biru tua senada
dengan warna celana Danni, aku juga memakai singlet putih , kami memang mirip
dalam segi berpakaian, hanya saja aku memakai kemeja berwarna biru dengan motif
yang bergaris – garis, seperti pakaian gaya Amerika yang sedang trend sekarang
ini. Aku membuka pintu mobil.
“Masuk
Harold.” Perintahku, anjing itu pun melompat masuk kedalam mobil, dia duduk di
jok belakang, sedangkan aku duduk didepan. Danni memegang kemudi. Dan begitu
kami keluar garasi, zombie itu saling mendorong didepan pagar.
“Bagaimana?
Tidak ada jalan lain selain pagar itu.”kata ku.
“Don’t worry.” Danni melempar sebuah bom
Molotov yang telah dia persiapkan, dia menggemgan botol wisky yang telah kosong
dan diidi dengan bensin dan diberi sumbu dengan kain lap. Dia menyelakan
pematik apinya.
“Kau
mengerti maksudku?”tanyanya.
“Tentu,
tentu saja. Kau melempar botol itu kearah mayat hidup itu, aku akan menembak
kunci pagar itu.” Jawabku.
“Ini.”
Danni memberikan aku senapannya.
Aku
mengeluarkan sebuah senjata dari dalam tasku.
“Jangan
kuatir, aku atlet penembak disaat masih SMA.”
“Baiklah.
Kita mulai.” Kata Danni, dia membuka power window dan mengeluarkan setengah
badannya keluar, dia menyalakan sumbu itu kemudian melemparnya keluar pagar
tepat mengenai segerombolan mahluk kelaparan itu terbakar seketika dan mereka
menyebar.
“Sekarang.”
Aku
menembakkan kunci pagar itu dengan otomatis pagar itu terbuka lebar karena
dorongan dari para zombie yang sebagian
dari mereka terbakar. Danni menginjak pedal gas dan mengganti gigi mobil, aku
mendengar ban mobil berdecit bercampur dengan gonggongan Harold, aku menembaki
mereka secara membabi buta mereka berjatuhan tapi kembali bangkit lagi.
“Pegangan.”
Seru Danni, dia meluncur keluar dari pagar dan kami menabrak beberapa zombie
yang berada dijalur jalan yang kami lewati. Aku mendengar bunyi tubrukan saat
tubuh mereka terhempas ketanah, aku merasa terangkat karena mobil itu pasti
melindas sesuatu, tentu saja zombie keparat itu mati terlindas tepat
dikepalanya. Aku menoleh kebelakang.
“Damn!” seruku melihat zombie – zombie
itu mencoba mengikuti kami, sementara Danni bersorak – sorak kegirangan. Dia
merasa seperti berhasil menghindar dari kejaran polisi yang sedang merajianya.
“Wow
! kita berhasil”
“Huh!
Menegangkan sekali. Kau lihat mereka? Mereka begitu mengerikan. Damn! Shit ! oh my God!” seru ku tak
kalah seperti merasakan sensasi ketegangan karena ini baru pertama kalinya aku
meletuskan senjata ku. Danni meluncurkan mobil dengan mulusnya dan kami menuju
kekota.
Tidak
pernah terbayangkan sebelumnya, aku merasakan perasaan yang mencekam ketika
melihat seluruh kota menjadi kacau, aku melihat mobil – mobil terpakir sembarangan
seperti ditinggal oleh pemiliknya dan tidak sedikit aku melihat mayat – mayat
bergelimpangan, namun aku tidak melihat satu pun mahluk itu berada disekitar
sini. Danni memarkirkan mobilnya dibelokan persimpangan jalan, dulu jalan yang
begitu ramai dilewati oleh kendaraan dan pejalan kaki, kini kosong hanya
sampah, mobil , sepeda dan yang lainnya berserakan dijalan.
“Kita
akan pergi ke toko.”
Aku
melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu depan, diikuti oleh Harold yang
juga keluar dari pintu depan, Danni membawa senapan dan sebuah kantung besar
untuk memuat barang – barang yang akan dia ambil.
“Tetap
focus dan berhati – hati.”kata Danni
memperingatkan aku dan Harold.
Kami
melangkah berhati – hati sambil tangan memengang senjata masing – masing, mata
kami mengamati sekeliling, memang tidak ada siapa pun disini sehingga dengan
mudah kami bisa memasuki toko kelontong itu, aku masuk terlebih dahulu, lalu
dikikuti oleh Harold dan Danni. Begitu aku berbalik aku melihat beberapa sosok
yang sedang berjalan tertatih – tatih mengintari rak, mereka melihat kearah kami dengan tatapan
yang mengerikan dan bersuara mengerang seperti kode, sehingga beberapa lagi
muncul dari bawah rak, mugkin mereka sedang memakan manusia dan yang lainnya
berbalik kearah kami.
“Shit.” Gunam Danni dia mengarahkan
senapannya kearah zombie yang sedang berjalan mendekat dan menembakkannya. Aku
pun tidak tinggal diam, ini membuat ku spontan mengacungkan senjata itu tepat
kearah kepala mereka dan menarik pelatuknya sehingga zombie – zombie itu jatuh
dan tersungkur kelantai. Salah satu zombie yang telah jatuh masih mengerang –
mengerang mencoba menggapai ku, aku lihat dia hanya tertembak dikakinya
sehingga membuatnya tidak bisa berdiri. Bergaya seperti pembunuh bayaran aku
menembakkan senjataku kekepala dengan letusan yang pertama dia diam tidak
bergerak lagi, kemudian aku melepaskan ssatu tembakan lagi, aku tidak bisa
berhenti dan satu tembakan dan hampir aku membuang peluruku jika Danni tidak
meneriakiku.
“Hei.
Hei , cukup.”
“Maaf.
Aku seperti ketagihan.” Jawabku sekenanya
“Kita
tidak akan membuang waktu, segera ambil barang yang kita butuhkan.”kataku pada
Danni.
Danni
mengangguk dan kami berpencar dia kesisi kanan, aku dan Harold kesisi kiri
tepatnya kearah rak makanan, aku membuka tas kantongku aku mengambil keripik
kentang, macam - macam biscuit, beberapa varian candy bar, macam – macam
makanan kaleng sampai tas kantungku penuh , aku melangkah menuju lemari
pendingin mengambil minuman. Danni pergi ketempat penjualan alat dia mengambil
senter, baterai, tidak banyak yang dia ambil dia kemudian kembali ke meja kasir dan dia mencari – cari dimana
outlet penjulan rokok, ternyata ada meja kaca kashir, dia memukulkan ganggang
senapan itu ke meja kaca sampai kacanya pecah berkeping – keping, dia mengambil
rokok satu jenis saja, Marlboro red rokok kesukaannya, dia mengambil semua
rokok itu sampai tidak tersisa. Aku mendengar bunyi pecahan kaca langsung pergi
mencari asal suara itu.
“Oh
men, kau mengejutkan aku saja.”umpat ku
“Aku
sudah selessai.”
“Yeah
aku juga.” Aku melemparkan sekaleng minuman ion untuk Danni, Danni menyambutnya
dan meminumnya habis dalam sekali teguk, aku pikir dia benar – benar kehausan.
“Lets get out from here.” Kata Danni
melempar kaleng kosong itu.
“Danni
ini sangat berat.”kataku mencoba untuk mengangkat tas kantung yang terisi penuh
itu.
“Cheese!” serunya melihat barang yang
kubawa.”Kau bawa punyaku.”
Kami
pun bertukar tas, tasnya tidak terlalu berat dengan mudah aku bisa membawanya
sedangkan Danni menggendong tasku walaupun agak berat namun dia bisa
membawanya. Sebelum kami keluar Danni menghampiri salah satu mayat hidup yang
sudah tidak bergerak itu, dia mengambil pistol zombie yang merupakan seorang
polisi sewaktu dia masih menjadi manusia.
“Lumayan.”kata
Danni dan menyelipkan pistol itu disela pinggang celananya. Kamipun keluar dari
toko untuk kembali menuju kedalam mobil aku dan Harold tetap mengikuti Danni
dari belakang hanya sekitar tiga yard sebelum kami mencapai mobil, aku melihat
seorang mayat hidup berjalan kearah kami jaraknya tidak begitu dekat, tapi
cukup membuat ku sedikit panic dan takut dan aku menembaknya sehingga zombie
itu terjatuh. Danni tersentak mendengar suara tembakan ku.
“What the hell fucking you doing ?!”
bentaknya
“Ada
zombie. Tapi aku sudah menembaknya.”jawabku sedikit tenang saat ku tahu aku
tepat menembak kepalanya sehingga dia tidak muncul dari balik mobil yang
berserakan.
“Oh no.” Danni sembari berbisik karena
suaranya hampir tidak kedengaran. Aku melihat disekelilingku tampak dari
kejauhan segerombol zombie dari tiap sisi jalan bermunculan karena mendengar
suara tembakanku.
“Sial
!”
Harold
terus – terus mengonggong, dia memutar mutar badannya dan menurunkan ekornya
diantara kakinya. Kami terus – terus menembak. Peluru yang berada dalam
magazine ku pun habis dengan terburu – buru aku merogoh isi tasku, membuang
magazine yang kosong dan mengisinya dengan magazine yang penuh, astaga zombie
itu cepat sekali bergerak dia hanya berjarak tiga yard dari kami yang terus –
terusan menembak. Begitu juga dengan Danni dia merogoh kantung celanya dan
membuat peluru kedalam senapannya dan kembali menembak, kami melangkah mundur
menjari sudut untuk melarikan diri namun itu percuma karena penuh sesak oleh
zombie – zombie jelek itu.
“Merunduk.”
Entah
dari mana suara itu berasal, aku tidak sempat melihatnya Danni segera menunduk
akun spontan menunduk dan memeluk Harold, kami berlindung disebuah truk. Aku
mendengar dentuman yang sangat keras membuat kami menutup telinga. Hanya
beberapa detik saja sekumpulan zombie itu terlempar kemana – mana, setelah itu
di susul dengan rentetan suara tembakan. Danni mengintip dari balik box truk
tempat kami berlindung, dia mendongak keatas ternyata ada seseorang berada
diatas gedung menembaki para mayat hidup dan dua orang sedang menembaki dibawah
gedung.
“Sebelah
sini.” Teriak salah satu dari mereka. Kami pun berlari keseberang jalan dan
terdapat gedung. Berdiri disebelah penembak itu dan ikut membak, seorang
lainnya pun pergi kearah kami. Solah mayat hidup itu tidak ada habisnya mereka
terus muncul dan muncul.
Bersambung...